Hujan Sore ini


Aduh,,, pasti pada komen, lagi2 tentang hujan,, iya memang,, akhir2 ini hujan menyapa lebih sering,, sepertinya hujan sadar bahwa bumi mulai kekurangan kelembaban, tapi mungkin hujan juga sedikit lupa jika terus menerus berkunjung maka bumi pun tidak sempat untuk membereskan bekas kunjungan lalu untuk selanjutnya mempersiapkan diri menerima kedatangan hujan kembali. Walhasil banjir dimana2 deh,,

 

Hujan sore ini tepat sesaat sebelum saya tiba disebuah kedai makan “Ayam Bakar Padang”. Karena memang punya kebiasaan jelek tidak suka membawa payung jadilah saya menunggu hingga hujan bersedia menyurutkan sedikit debit massa yang jatuh ke bumi. Sembari menunggu, ada beberapa pembeli yang datang memilih ayam yang telah direbus dan dibumbui sebelumnya. Karna memang sedang tidak ada yang dikerjakan, mengamati menjadi aktivitas saya saat itu.

 

Sejauh ini masih belum ada initinya yaa,, hahahaha.. terus baca,, siapa tau ada yang bisa diambil nanti…

 

Kemudian sampailah pada pengunjung ke sekian. Adalah seorang anak kecil dengan payungnya yang datang dan sempat kikuk dan memikirkan apa yang harus ia lakukan pertama kali. Ibu (yang biasa kami panggil UMMY) penjual sedang berada di dapur dan tinggallah anak perempuannya yang sedang membalik2kan ayam yang sedang dibakar. Adik tadi sempat bingung sejenak. Ingin rasanya saya hampiri dan saya tuntun anak tersebut untuk memilih ayam jika saja sesaat kemudian dia masih tetap bingung harus bagaimana. Namun akhirnya tangannya pun bergerak mulai memilih ayam.

* Jangan biarkan pembeli kebingungan, coba hampiri dan tanya apa yang diinginkan,, Untuk menghindari ke-kikuk-an dan kebingungan pelanggan serta untuk menghindari raut wajah yang menunjukkan keasingan mereka di tempat makan tersebut.*

 

Setelah ayam dipilih dan diletakkan diatas piring menunggu giliran untuk segera dibakar dan disajikan, adik itu bingung harus melakukan apalagi. Ia tau ia harus menunggu, namun dimana?? Sebenernya terlihat olehnya ada bangku kosong didekat saya, namun sepertinya ia terlalu sungkan untuk berjalan ke arah saya *maklum anak kecil malu2 kucing*. Karna saya benar2 tidak betah melihat anak tersebut untuk beberapa menit berdiri (dan karna hujan pun mulai mengulurkan tangan persahabatan dengan meredakan sedikit debit airnya), saya pun berdiri meninggalkan kursi panas (yang memang benar2 menghangat karna terlalu lama diduduki) saya dan berdiri menghampirinya.

 

Dengan sedikit berakting melihat2 keadaan sekitar yang memungkinkan saya untuk berlari menuju kosan, saya pun bertanya “Adek, sendirian aja?”, dijawab dengan senyum malu2. “Aduh,, banjir ya” (sembari berakting ria). “Adek kenapa gak duduk?? Itu tuh disitu ada kursi, capek lho.” Kemudian (belajar dari pengalaman) saya tinggalkan dia dan berlari kekosan berkejar2an dengan hujan persis seperti gaya dalam film Korea *atau lebih tepatnya India* sembari mendongak keatas dan menikmati air yang sudah membasahi kaki dan wajah saya. Nikmat… Segar… Senang…

 

Apakabar dengan adik tadi?? Saya harap dia tidak menyia2kan usaha saya agar ia tidak malu2 lagi menempati kursi panas yang tersedia,,

 

Gak tau ya teman2, dari dulu saya terlalu sensitif untuk tidak sedih dan tidak terpikir nasib anak2 yang berjalan sendirian atau belanja sendirian. Mungkin bagi mereka itu adalah suatu kebanggaan bisa melakukan transaksi sendiri dengan menggunakan uang yang dikeluarkan dari kantong mereka sendiri (karna saya juga dulu begitu), tapi saya selalu memandang iba, seolah tidak ada orang tua yang melindungi mereka. Karna memang disekitar saya banyak anak2 kecil dari dulu sampai sekarang (dan saya sangat suka berinteraksi dengan wajah2 polos mereka), saya benar2 tidak tega melihat anak2 yang berjalan ataupun melakukan aktivitas sendirian, rasanya ingin selalu menemani dimanapun mereka berada. Apalagi jika terkadang ditambah wajah iba mereka. Tidaaaaakkkkkk!!! Jangan pasang wajah itu!! Karna sering sekali saya tersentuh ketika melihat anak kecil, saya pun berazam kelak ketika saya telah menjadi ibu, akan saya temani kemanapun mereka pergi, dan tidak telat menjemput ketika mereka pulang sekolah, les atau sebagainya. Saya harap teman2 yang membaca juga bisa berlaku demikian, kasian anak2 kecil yang belum mengerti apa2 dan masih belum sepenuhnya berani menghadapi dunia luar.

 

Semoga bermanfaat yaa..
Sedikit ataupun banyak semoga bisa diambil hikmahnya..

 

Jatinangor, 290310, 18.40


 

~ by Historina Safitri Hakim on March 30, 2010.

One Response to “Hujan Sore ini”

  1. : seperti pelangi,. setia menunggu hujan,reda,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: