Deklarasi Kebebasan


writing

Meski raga terpasung ditempat terdalam dan tergelap
dengan ikatan terkuat dan tererat yang mungkin bisa
Tapi karya tak pernah enggan untuk melayang
Setinggi angkasa yang mungkin terjamah

Berawal dari percakapan yang tidak direncanakan bersama Teh Lala pemilik salah satu kedai yoghurt yang cukup ramai di Jatinangor. Percakapan bermula dari hal-hal seputar bisnis dan perjalanan hidup sampai pada salah satu part dimana Teh lala berkata ‘Badan boleh dipenjara tapi gak ada yang bisa memenjara pemikiran(kreatifitas). Free your mind!” kurang lebih begitu kutipan kalimat teh lala. Dan kalimat itu serta merta meng-klik otak saya.

Yeap, itu bedanya kerja otak dan kerja otot. Kerja otot yang sangat terbatas oleh ruang dan waktu, yang akan terancam keberlanjutannya ketika keleluasaan fisik terbatasi. Sangat berbeda dengan kerja otak yang tak terbatas bahkan oleh ketidakwarasan individu. Kehilangan kesadaran diri (baca : GILA) pun merupakan hasil kerja otak yang diluar kontrol kesadaran normal.

Salah satu contoh kerja otak adalah menulis. Menulis merupakan hasil dari percikan2 ide, pemikiran dan angan yang tidak terbatas oleh keterpenjaraan fisik (tubuh) kita. Menulis yang selama ini saya rasakan sebagai sarana penyaluran emosi berlebih, pencurahan rasa dan asa, serta tempat berbagi ketika ketiadaan daya melawan jarak menjadi pelengkap benteng terhalangnya tatap muka dengan sahabat ataupun orang terdekat ternyata memiliki arti lebih dari urusan emosi dan komunikasi. Menulis tidak hanya sekedar kerja otak yang memfasilitasi rasa untuk tersalurkan agar kelegaan dan keleluasaan hati dapat ditemukan kembali. Menulis ternyata memiliki pesan tersirat yang menjadi inti utama dari aktivitas jari ini, yaitu sebagai bentuk deklarasi pribadi atas kebebasan diri, tidak terpenjaranya pemikiran, serta terlepasnya kita untuk berkreatifitas atas sejumlah kemungkinan yang bahkan tidak mungkin terjadi.

Itu intinya,,, DEKLARASI KEBEBASAN!!! Tidak ada alasan untuk tidak menulis, karna efek menulis pun memberikan bekas yang tidak hanya hitungan tahun, dekade, atau bahkan abad, tapi hitungan generasi hingga peradaban. Kita semua pun telah diberikan bukti akan ketidaklekangan tulisan oleh waktu melalui pedoman hidup kita, kitab suci yang menjadi panduan dalam menjalani kehidupan agar tidak terlepas jauh dari aturan yang telah ditetapkan.

Oleh karna itu, mari kita budayakan menulis sebagai ekspresi kebebasan kita atas segala hal yang membatasi kebebasan raga.

Jatinangor, 250210, 00.59

~ by Historina Safitri Hakim on February 25, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: