LIVING CLOSE TO THE DEATH


Beberapa hari yang lalu sempat nonton bareng anak-anak kosan film ice age 3. Berusaha untuk gak Cuma dapet seneng-seneng doank, histor pun mencoba mencari suatu hal yang bisa diambil hikmahnya. Hikmah ini histor rasakan ketika sudah bersentuhan dengan si ‘Buck’,, si tokoh lebay yang ‘megang’ banget dunia bawah es,,, Kata-kata Buck kurang lebih begini “I never felt so alive till i get close to the death..” Owwwcchhh,,, yeah,,, thats normal,,, n thats human nature,, kita selalu mulai bersyukur, mulai ingat dengan pencipta ketika kondisi kita mulai stuck, dying, get in to dead end,,,

Stuck dalam memilih alternatif solusi diantara alternatif yang hampir semuanya mengarah ke pilihan negatif dengan resikonya yang besar dan kemudian kita mulai mengembalikan kepadaNya,,,

Stuck dalam menghadapi deadline acara sampai akhirnya pasrah dan mulai memanjatkan doa,,

Ketemu dead end masalah-masalah dalam step-step kehidupan hingga keluarlah akhirnya tangisan berserah diri dan keikhlasan akan jalan terbaik dariNya meski bukan yang diinginkan…

Sampai-sampai ketika kita dying, sakaratul maut di depan mata, hingga kita sadari bahwa persediaan nafas ini tidak akan mampu bahkan untuk mengejapkan mata, kita baru mengembalikan semua padaNya dan mulai bersyukur akan nikmat hidup yang telah diberikan selama ini.

Tapi mengapa harus terlambat??

Ada yang menjawab “ Karena kita Cuma manusia..” hahahaa,, kayak lagu kerispatih aja (Cuma manusia)

Ada juga yang berkata “ Karena manusia tidak pernah sempurna,, “ jadi inget lagu Andra and the Backbone

Yang lainnya menimpali “Karena menyesal itu datangnya selalu belakangan.. “ hoohohooo,, Reza Herlambang nie…😛

Yaaa… yaaa… yaaa…. oke oke,, memang itu tidak sepenuhnya salah,, tapi tidak bisa juga kita jadikan pembenaran… Justru karna kita manusia yang diberikan akal lebih untuk tidak melakukan kesalahan yang sama maka seharusnya kita belajar dari pengalaman orang lain,, belajar dari cerita-cerita orang tua kita akan kesalahan masa lalunya,, akan penyesalan-penyesalan yang selalu hadir belakangan dan tidak bisa kita putar ulang waktu karna kita tidak kuasa melawan waktu…. justru itu,,,, kita seharusnya belajar dari semua pengalaman dan cerita-cerita itu,,,, coba untuk memperbaiki,,, coba untuk mengurangi persentase penyesalan dalam hidup kita,, kecuali penyesalan dengan dosa-dosa kita yaa,, dengan harapan tidak terulang lagi khilaf-khilaf kita…

Kenapa sie kita nggak berusaha untuk menikmati hidup dengan melakukan upaya maksimal kita dalam segala sesuatu yang kita kerjakan??

Kenapa kita gak berusaha untuk menyampaikan rasa sayang kita kepada orang-orang yang menempati special corner hati kita??

Kenapa kita gak segera merealisasikan semua hal yang selama ini bentuknya hanya pemikiran dan imajinasi secepat-cepatnya dengan effort yang maksimal dari sekarang??

Kenapa kita gak bekerja keras untuk mengurangi berat tinta-tinta yang ditorehkan di bahu kiri kita untuk mendapat kenikmatan surga nanti??

Kenapa kita gak sesegera mungkin membahagiakan dan membanggakan orang tua kita selagi mereka masih hidup dan selagi kita masih punya waktu untuk itu??

Kenapa… kenapa… dan kenapaaaaa….

Sebenernya kalo saja kita sadar bahwa kita akan melakukan segalanya lebih maksimal lagi saat kita mengetahui deadline atau batas waktu kita hampir habis maka kita akan membuat hidup kita menjadi lebih hidup, penuh semangat dan penuh anak-anak pencapaian setiap harinya. Kalau begitu, kalau memang hal itu bisa membuat kita lebih hidup dan lebih melambung menjadi orang yang kita inginkan, kenapa tidak kita memposisikan diri seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kita? Jam ini jam terakhir kita? Lagu ini lagu terakhir yang kita dengarkan? Dan tulisan ini tulisan terakhir yang bisa kita tulis? Seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kitaa….

Yeap,, kira-kira dengan mengingat-ingat bahwa tiap hari adalah hari terakhir kita maka penyesalan itu dapat diperkecil bahkan sepenuhnya dihindari,, dan kita pun menjadi pribadi-pribadi yang selalu siap dengan kemungkinan terburuknya,, karna dengan melakukan yang terbaik di setiap aktivitas maka kemungkinan terburuk itu pun tidak akan terasa begitu mengerikan, karna diri kita telah menjadi diri-diri yang waspada dan ikhlas.. Kan kata sang Pencipta yang harus kita lakukan adalah melakukan yang terbaik,, selanjutnya serahkan saja padaNya,, So,,, apalagi yang harus dikhawatirkan???

Jatinangor, 4 Agustus 2009

~ by Historina Safitri Hakim on August 5, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: