“SIAPA BILANG KAWIN ITU ENAK??”


Baru aja semingguan lalu baca buku “Siapa Bilang Kawin Itu Enak?”. Kumpulan cerpen yang ringan tetapi amat mengena,, Cerita-ceritanya realistis dan ekspresif, kita pun sebagai pembaca akan ikut terbawa alur cerita dan secara tidak sadar telah membaca sambil mengimajinasikan diri sebagai tokoh utama. Cerita sebagian besar dilihat dari sudut wanita, ini mungkin yang membuat cerpen-cerpennya terasa pas dan sangat mengena di hati. Ada beberapa cerita lucu akan kesulitan menyatukan dua pribadi berbeda dengan segala kebiasaan lama yang dibawa dalam satu atap berharap akan langgeng lama. Banyak konflik yang tercipta dari hal-ha kecil, namun pada akhirnya jika kita mengingat kembali akan pernikahan yang membuat kita mengGENAP dan menjadi SATU maka konflik-konflik dari perbedaan-perbedaan kecil itu benar-benar terasa kecil dan tidak ada artinya, tetapi bukan berarti tidak berubah, perlahan tetapi pasti keduanya berkewajiban untuk memperbaiki sifat dan sikap.

Ada juga beberapa cerita yang menyampaikan bahwa kehidupan pernikahan dengan rutinitas yang menjadi siklus serupa setiap harinya membuat pasangan-pasangan suami istri merasakan kejenuhan dan merindukan gejolak-gejolak yang pernah dirasakan saat belum menikah sampai-sampai sengaja mencari kesempatan untuk hidup berjauhan. Hal ini terdapat dalam cerpen “Telah Terbiasa”, ketika sang istri merasa jenuh dengan kesehariannya dan ingin kembali merasakan bunga-bunga asmara seperti diawal sebelum mereka menikah, hingga akhirnya sang istri menyuruh suaminya mencari kemungkinan tugas ke luar kota atau keluar negeri agar rasa kangen dan saling membutuhkan itu lebih terasa dan membuat keduanya kembali penuh cinta. Semacam refresh rasa dalam kehidupan pernikahan.

Akhirnya kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba, seminggu sebelum keberangkatan sang suami mengabari istrinya. Hal pertama yang dirasakan istri adalah syookkk,, mengapa begitu cepat? Tapi memang itu yang diharapkan, akhirnya terkabul. Dimulailah 3 bulan lamanya tanpa suami di sisi. Istri tidak menyangka akan selama dan sejauh itu ditinggalkan suami. Dengan ketabahan dan rasa rindu yang teramat dahsyat akhirnya 3 bulan berlalu dan keduanya kembali bertemu dan melepas rindu. Ternyata istri baru menyadari bahwa dirinya tidak sanggup tanpa pendampingan sang suami di sisi. Setelah dipikir-pikir memang perlu sesekali merefresh hubungan agar terus terasa dinamika dan terus terbaharui rasa-rasa yang ada namun mungkin tidak perlu berjauhan sedemikian lama, cukup dengan hal-hal berbeda dari biasanya yang dilakukan bersama-sama dapat membuat hubungan tetap dinamis. Contohnya dengan melakukan date berdua saja sesekali, atau bahkan melamar kembali sang istri untuk membersitkan kembali rasa-rasa cinta itu seperti dalam salah satu cerpen di buku ini (Menikah Selamanya).

Ada kata-kata dalam cerpen terakhir yang membuat berpikir “ Menangis sebenarnya bukan karena kita menangisi orang yang pergi dari kita namun sebenarnya kita menangisi diri sendiri yang ditinggal pergi oleh orang lain. “ Iya juga ya,,, mungkin juga seperti itu, jadi sebenarnya menangis karna kita sedih terhadap diri kita yang lagi-lagi ditinggal oleh yang lain, kita sedang mengasihani diri kita yang amat menyedihkan ini. Untuk tidak menyadarinya maka kita membuat seolah-olah kita menangis karena perpisahan, hilangnya kebersamaan, padahal karena rasa kesendirian diri yang akan kembali menemani hari-hari.

Dari judul buku kumpulan cerpen ini sempat terpikir bahwa akan dipaparkan permasalahan-permasalahan yang mengedepankan kesulitan pernikahan. Memang benar sama sekali tidak ditutup-tutupi problem yang mungkin terjadi namun overall cerpen-cerpennya memberikan pesan bahwa meskipun ada kendala yang mungkin kita temui dalam kehidupan pernikahan, tetap menjadi suatu hal yang menantang dan sangat menarik untuk ditapaki tahap-tahapnya. Tidak membuat kita takut melainkan tertantang, dan membantu memberikan gambaran jelas sehingga kita tidak terlalu kaget lagi dan mampu memahami medan yang mungkin dihadapi nanti.

Recomended to read!!

~ by Historina Safitri Hakim on July 18, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: