Ku Bersyukur jadi diriku..


Denting waktu terus berdetak mengiringi kesepianku ketika tiba2 lampu padam menghampiri saat malam baru akan merangkak ke peraduannya…

Dengan laptop yang masih dalam kondisi hidup berhubung pake batre,, lantunan nasyid “Kubersyukur jadi muslim” terus mengalun…

Dalam keremangan malam lagu tersebut ternyata menyentuh sesuatu dalam fikiranku..menggelitik sanubariku…hampir saja kulupa untuk bersyukur,,bersyukur atas segala rahmat dan hidayah yang telah diberikanNya kepadaku..

Bersyukur akan statusku sebagai warga negara Indonesia,, jika tidak aku mungkin tidak mengerti apa itu basa basi,, keramahtamahan,, gotong royong,,tepo seliro,, bhineka tunggal ika,, gemah ripah loh jinawi,, yang terjadi aku mungkin akan lahir menjadi orang-orang individualis seperti orang-orang eropa sana…

Bersyukur karna terlahir dalam keluarga yang kelasnya menengah… Selalu punya tetangga yang halamannya lebih hijau dan menjadi pemacu untuk terus mencapai langit tertinggi itu,,, dan tetap legowo dengan segala kekurangan ketika mengingat bahwa masih banyak yang memiliki taraf kehidupan jauh dari kelayakan bahkan untuk memenuhi kebutuhan wajib dalam kehidupan,,sandang pangan dan papan.

Bersyukur karna terlahir sebagai seorang wanita,, sehingga mendapatkan kesempatan untuk merasakan betapa berharga dan istimewanya wanita dan hak-haknya yang tidak tergantikan,, Betapa sulit bergulat dengan rasa bukan logika,, ketika semua harus bisa nyaman terasa meski terkadang logika sulit untuk menerima.

Bersyukur untuk menyandang gelar seorang kakak yang berkesempatan untuk terus menjadi yang terbaik sebagai contoh bagi adik2,, berkesempatan untuk mempelajari psikologi anak-anak dengan mendampingi adik-adik kecilku tumbuh… berkesempatan untuk menyentuh hati dengan tingkah polos mereka…

Bersyukur menghabiskan masa kecil Timor Timur tercinta dimana seluruh penduduk dengan ras yang berbeda, keyakinan yang tidak sama, kebudayaan yang beragam, tradisi yang serba-serbi, bisa hidup berdampingan dengan harmonisnya tanpa saling mengganggu. Tahun-tahun yang berlalu membentuk aku yang terus belajar untuk menghargai perbedaan sebagai warna warni yang menjadikan dunia ini meriah. Belajar untuk mengetengahkan rasa memiliki sebagai satu komunitas yang saling membutuhkan diatas kepentingan lainnya.

Bersyukur untuk mengalami kegagalan dalam meraih SMP impian hingga harus duduk di SMP swasta yang sama sekali tidak terlintas dipikiran sebelumnya,, SMP itu mengajarkan bahwa jika kita memang mampu menggapainya maka tidak perlu ragu darimana kamu berasal, selama kita terus bertahan untuk menjadi orang berkualitas meski lingkungan tidak terlalu mendukung. Kesuksesan tidak hanya ditentukan dari kecerdasan tetapi juga keinginan untuk terus bertahan meraih apa yang kita cita-citakan.

Bersyukur karna takdir menuntunku untuk mengawali bangku kuliah dengan ketidakpedean hingga akhirnya bermuara disatu fakultas yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam masa-masa sekolahku. FPIK yang menjadikanku sadar akan kekuatan dalam mewujudkan apa yang telah kita katakan. Menyadarkan bahwa janji bukan hanya seuntai kata yang kita ucapkan tanpa sengaja, janji adalah sesuatu yang keluar dari keinginan kuat dalam hati.

Bersyukur karna bisa berpartisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan yang mengajari ku bahwa seorang pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain, bukan orang yang ditakuti atau dipuja-puji pengikutnya. Memimpin bukan untuk dilayani tapi untuk melayani. Mengajarkanku bahwa ketika hanya satu orang yang berada dalam keadaan genting itu maka ajukanlah dirimu,, dan mengajarkan akan rasa teramat malu ketika sebuah perjuangan tanpa ada andil kita didalamnya.

Bersyukur karna secara tidak sengaja belajar untuk menulis karya ilmiah yang membuatku belajar akan kesempatan. Bahwa kesempatan adalah untuk mereka yang berani menunjuk dirinya untuk mencoba, bukan untuk mereka yang memiliki kemampuan tapi tidak ada keinginan mencoba. Belajar untuk menemukan satu pintu kesempatan yang mengantarkan pada beratus bahkan beribu ribu pintu kesempatan lainnya. Pintu kesempatan memberlakukan perhitungan pemangkatan hingga aku tidak pernah lelah untuk selalu mengajukan diri terdepan dalam menangkap bola-bola kesempatan itu.

Bersyukur mendapat gelar akhwat meski diragukan persentase keakhwatannya. Setidaknya belajar akan menjaga izzah status dalam diri kita dan menjadikan kita malu terhadap apa yang orang-orang berikan dan orang-orang anggap layak untuk kita sandang.

Bersyukur atas semua kesempatan yang pernah hadir dalam bentuk skenario-skenario indah Allah dengan berbagai ujian yang diberikan. Sesungguhnya Allah hanya ingin kita belajar,, belajar dari apa yang terjadi disekeliling kita. Tidak ada kata yang lebih tepat selain beljar. Semua diberikan Allah untuk mengajarkan kita memetik pelajaran dari apa yang telah terjadi dan dari kesalahan-kesalahan besar itu. Sesungguhnya menjadi orang yang besar diawali dengan pengalaman, pengalaman dalam melakukan kesalahan yang besar.

syukur

Pada akhirnya aku sangat bersyukur terlahir menjadi seorang muslim. Yang memiliki iman kepada Allah SWT sebagai keyakinan dan kekuatan dalam mengarungi seluruh onak kehidupan. Apa jadinya jika aku terlahir sebagai seorang Historina tanpa agama? Tanpa keyakinan? Tidak mengetahui kepada siapa kemana dan bagaimana harus mengadu ketika kita membutuhkan bahu untuk bersandar? Maka hidup akan terasa begitu hampa. Terima kasih telah menjadikanku sebagi seorang muslim. Muslim yang akan terus berusaha untuk mengutuhkan kemuslimanku.

Allahummaana…

~ by Historina Safitri Hakim on June 23, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: